saya sungguh lah sangat terobsesi dengan perang. biarpun saya cukup pengecut melihat luka.. bukan, bukan darah, tapi luka-nya. eugh.. ga tahan.
lalu, dengan passion saya dengan perang, selalu lah saya membanding bandingkan perang jaman dulu dan jaman skarang. dan saya makin ga suka dengan perang jaman sekarang.
makin masa kini, makin pengecut lah.
saya kira teknologi harusnya mempermudah.. saya lupa klo efek samping mempermudah ituh juga menambah kekuatan merusak
coba aja perang jaman dulu. [at least dalam bayangan saya, mendengar kisah rosul, pbuh.. oh betapa ku merindu beliyau]
ada perjanjian dulu mreka perang.
perang tidak dalam kota, atau at least warga sipil di ungsikan di tempat aman.
klo dari film-film kolosal, sperti bertemu di hamparan luas tanah ini. dua pasukan di pertemukan, dipimpin oleh sang panglima perang yang memberi aba aba. dan mreka menyerbu berperang ditengah.
dengan gagahnya sang pemimpin memberi contoh pada pasukannya dengan melaju paling depan.
tidak sperti skarang, sang komandan justru mengarahkan telunjuknya dan BUM! yang maju tentu saja peluru peluru sang pasukan. blum lagi sang komandan dilindungi pasukannya sperti berlian yang sungguh berharga tidak boleh satu sisinya pun tersentuh debu atau musuh.
hfff... kata ayah, sistem perangnya memang sudah beda.
begitu yah?
klo dulu perang berenti ketika matahari tenggelam.. oh bukan berhenti.. tapi cease fire. dan dilanjutkan besok harinya.
mreka tau bahwa dari dua belah pihak perlu tenaga untuk esok harinya. istirahat dan makan.
mereka pergi perang untuk tujuannya, for God sake! bukan bunuh diri, baik dengan cara dibunuh musuh atau dengan kelaparan.
coba liat perang iraq kmaren. betapa indahnya footage bom2 meledak memberikan warna pada kelamnya malam. putih, kuning, merah, biru... sungguh kalau captionnya tidak berkata "Iraq", saya kira itu perayaan taun baru entah dimana.
kalau dulu, kata rasul, jika menang perang, maka harta pihak yang kalah menjadi harta milik yang menang. betapa Allah mengingatkan agar mreka tidak mengganggu dan agar mreka memperlakukan istri-istri atau janda-janda perang dan anak anak mreka yang kalah perang dengan baik di dalam Quran. dan rasul menyampaikannya.
ambil hartanya, jangan sakiti orang-orangnya.
aaaahh.. sungguh lembut.
tapi skarang, saya kira, tak satu negara islam pun akan mampu melakukannya biarpun mreka menaruh kata kata "Laa Ilaha Ila Allah" di benderannya.
bahkan, janda-janda, anak kecil dan orang tua dikumpulkan, disisihkan, dihitung, diberi judul "collateral damage" atau "soft target"
maaf, sperti saya bilang tadi. efek samping teknologi.
memudahkan.
sungguh saya merindukan ajaran rasulku di ingat. bukan hanya di ingat, tapi dipikirkan. bukan hanya dipikirkan, tapi di resapi maknanya. bukan hanya diresapi maknanya, tapi di sadari bahwa itu applicable. dan insyaAllah, ada niat melakukan.
mungkin bukan tentang perang.
mimpinya terlalu jauh.
kerinduanku akan perang yang adil dan gagah
saya selalu bercita-cita menjadi seorang jurnalis di daerah konflik atau perang.
tapi semoga tidak ada lagi perang.
terutama klo perangnya tipe perang masa kini.
yang sungguh pengecut dan merusak.
tapi seorang teman berkata.
"dont worry, as long as human live, there will always be wars. coz human love to fight"
saya sudah selesai berbicara.
HOWGH!
0 comments:
Post a Comment