Baik, tanpa sengaja laporan cuaca bulan Maret terlewati. Bukan maksud. Sungguh! Karena banyak hal dan lainnya maka tidak sempat sama sekali menuangkan reportase di Blog. Mau ditulis sekarang udah keburu lupa. Jadi kita lompati saja sebulan sekalian. Tahun depan, kita Siksa bulan Maret! Hahay!
Menutup bulan Maret dengan tanggal merah di akhir minggu sehingga menyebabkan long-weekend rush, di akhir bulan baru gajian yang kemudian disambut reputasi bulan April yang penuh kejutan dan ke-jail-an (refer to: April MOP). Hasilnya adalah ketidakjelasan, atau semacam samar samar musim.
Yang jelas bilan April udah cukup asik buat liburan. Angin kering sudah semakin sering menyapu. Titik jatuh matahari sudah mulai berpindah ke utara, dan bunga-bunga yang mekar mendominasi adalah bunga-bungaan berwarna terang menyala (nuansa kuning dan orange atau jingga). kalaupun merah lebih menyala ke arah orange. Udara sudah mulai menghangat. Sekadang-kadang masih ditemani mendung. Tapi hujan besar mengguyur sudah sangat berkurang frekuensi maupun intensitas. Angin pun sudah lebih lembut dan sabar terhadap kita.
Sore hari adalah waktu yang masih dikunjungi mendung. Biasanya diawali dengan pagi yang hangat dan siang yang terik. Tapi di penghujung April, mendung sore semakin jarang. Kita sudah bisa menikmati senja sore, dan fajar pagi. April sepertinya awal bulan bercuaca baik untuk mengunjungi Indonesia. Minimal Bandung.
Laporan pendek kali ini. Pengakuan saya, karena kapasitas observasi saya berkurang. Saya lagi sering mabok. Jadi banyak murungkul di rumah. Doakan saja biar bisa segera full capacity lagi.
Mari kita sambut bulan Mei yang penuh libur dan hari kejepit nasional. Semoga cuaca mendukung liburan. Cihuy!
Showing posts with label cuaca bandung. Show all posts
Showing posts with label cuaca bandung. Show all posts
Wednesday, 30 April 2014
Friday, 28 February 2014
Februari bulan kelabu
Baik, kembali melaporkan rangkuman cuaca Bandung bulan per bulan. Hal ini menjadi penting untuk rekomendasi liburan (yang mau ke Bandung), bikin kegiatan outdoor, atau apapun lah. Pokonya mah penting! hehe
Bulan Februari ini sunggu kelabu. Terutama setelah meletusnya gunung Kelud di pertengahan Februari, tepatnya sehari sebelum Valentine Day. Mungkin juga itu yang mengakibatkan mood dewa cuaca cepat berubah. Perubahan ekstrim dalam jangka waktu dekat berulang ulang terjadinya. Seperti hati yang dipermainkan pemberi harapan; sedetik panas, sedetik dingin.
Pada dasarnya bulan Februari ini masih mirip bulan lalu. Angin besar yang memburu. Udara dingin yang menggigit. Hanya saja volume hujan yang berkurang. Hujan sudah mulai jarang, atau turunnya tidak berat. Kalaupun turun deras, tidak lama. Tapi yang memberatkan adalah mendung yang menggayut berkepanjangan. Bikin mata susah melek di pagi hari. Selimut sudah seperti rahasia istri simpanan yang cantik. Berat rasanya untuk berbagi, apalagi dibuka dan disingkap.
Ada kalanya matahari muncul memberi harapan. Terang benderang, bahkan terik! Langit tiba tiba cerah ceria... hanya untuk beberapa jam. Setelah puas menipu orang-orang yang dengan PD keluar rumah tanpa jaket atau hanya dengan celana pendek, maka awan awan kelabu memutuskan, kini saatnya mereka mengepung langit. Kita selimuti matahari. Dan kembali hari menjadi dingin menggigit.
Temperatur udara di bulan Februari seperti emosi remaja yang sedang puber. Naik turun tak tentu tanpa sebab. Sedikit dingin, tiba tiba hangat mesra, dan dalam beberapa detik berubah kembali dingin membatu. Dan persis seperti anak remaja yang selalu mengurung diri di kamar dan sulit dibangunkan dari tidur, cuaca bulan Februari seperti meminta orang orang untuk berkemah permanen di tempat tidur dibalik selimut hangat, dinaungi awan kelabu.
Matahari masih juga di selatan, dan mulai merayap ke utara. Tapi tetap saja awan awan abu menyangkal kesempatan saya berenang atau pun jogging. Hujan dan dingin. Akhirnya bulan ini olahraga didominasi oleh yoga. Bagaimana dengan senja dan fajar? Seperti saya bilang tadi, awan kelabu memonopoli lukisan langit. Warna-warna belum diijinkan muncul menghibur sayatan angin yang beku.
Persiapan Bandung bulan Februari: baju yang berlapis-lapis. Jaket-jaket tipis bertumpuk. Payung dan topi. Ini semua untuk kemudahan berubah mengikuti cuaca yang labil.
Oh ya! Catatan penting! Beberapa hari lalu Bandung diselimuti kabut yang cukup tebal di pagi hari hingga merayap pra-siang. Orang-orang tak kuat menahan diri untuk komentar (terutama di twitter). Banyak yang terkesan -Bandung halimun, seperti kembali ke tahun yang diawali angka 1-
Kabut tipis memang sudah beberapa kali berkunjung. Buat Bandung jadi mistis romantis...
Bulan Februari ini sunggu kelabu. Terutama setelah meletusnya gunung Kelud di pertengahan Februari, tepatnya sehari sebelum Valentine Day. Mungkin juga itu yang mengakibatkan mood dewa cuaca cepat berubah. Perubahan ekstrim dalam jangka waktu dekat berulang ulang terjadinya. Seperti hati yang dipermainkan pemberi harapan; sedetik panas, sedetik dingin.
Pada dasarnya bulan Februari ini masih mirip bulan lalu. Angin besar yang memburu. Udara dingin yang menggigit. Hanya saja volume hujan yang berkurang. Hujan sudah mulai jarang, atau turunnya tidak berat. Kalaupun turun deras, tidak lama. Tapi yang memberatkan adalah mendung yang menggayut berkepanjangan. Bikin mata susah melek di pagi hari. Selimut sudah seperti rahasia istri simpanan yang cantik. Berat rasanya untuk berbagi, apalagi dibuka dan disingkap.
Ada kalanya matahari muncul memberi harapan. Terang benderang, bahkan terik! Langit tiba tiba cerah ceria... hanya untuk beberapa jam. Setelah puas menipu orang-orang yang dengan PD keluar rumah tanpa jaket atau hanya dengan celana pendek, maka awan awan kelabu memutuskan, kini saatnya mereka mengepung langit. Kita selimuti matahari. Dan kembali hari menjadi dingin menggigit.
Temperatur udara di bulan Februari seperti emosi remaja yang sedang puber. Naik turun tak tentu tanpa sebab. Sedikit dingin, tiba tiba hangat mesra, dan dalam beberapa detik berubah kembali dingin membatu. Dan persis seperti anak remaja yang selalu mengurung diri di kamar dan sulit dibangunkan dari tidur, cuaca bulan Februari seperti meminta orang orang untuk berkemah permanen di tempat tidur dibalik selimut hangat, dinaungi awan kelabu.
Matahari masih juga di selatan, dan mulai merayap ke utara. Tapi tetap saja awan awan abu menyangkal kesempatan saya berenang atau pun jogging. Hujan dan dingin. Akhirnya bulan ini olahraga didominasi oleh yoga. Bagaimana dengan senja dan fajar? Seperti saya bilang tadi, awan kelabu memonopoli lukisan langit. Warna-warna belum diijinkan muncul menghibur sayatan angin yang beku.
Persiapan Bandung bulan Februari: baju yang berlapis-lapis. Jaket-jaket tipis bertumpuk. Payung dan topi. Ini semua untuk kemudahan berubah mengikuti cuaca yang labil.
Oh ya! Catatan penting! Beberapa hari lalu Bandung diselimuti kabut yang cukup tebal di pagi hari hingga merayap pra-siang. Orang-orang tak kuat menahan diri untuk komentar (terutama di twitter). Banyak yang terkesan -Bandung halimun, seperti kembali ke tahun yang diawali angka 1-
Kabut tipis memang sudah beberapa kali berkunjung. Buat Bandung jadi mistis romantis...
Tuesday, 21 January 2014
Januari di Bandung 2014
On the account of tracking what's the weather like for long term study (personal pursue), I decided to write a post about what's the weather like - in general- month by month. Here is my observation.
Januari ini dipenuhi hujan gerimis tapi rapat seperti sisir kutu. Hujan besar seperti kerikil tumpah juga lumayan sering turun, secara keseluruhan masih didominasi hujan kutu *eh*. Frekuensi hujan seperti ingus. Ada kalanya seperti ingus disaat kita sedang perlu tampil prima; turun naik dengan sangat cepat, begitu seterusnya berulang-ulang hampir sepanjang hari, dengan sesekali diselip interval kering, mendung, gloomy yang lama. Ada kalanya hujan seperti ingus anak kecil yang tidak peduli; turun perlahan, taking its time, lama dan bertahan di tempat yang sama dalam kurun waktu yang seolah abadi. Ada kalanya juga hujan datang seperti ingus yang loncat mengejutkan saat kita bersin; tidak terduga, tidak dinantikan, dan datang dalam intensitas besar hampir membanjiri, namun hanya sebentar. Sesaat saja yang diperlukan untuk merusak rencana, sebagaimana sesaat saja yang diperlukan untuk bikin malu saat ingus loncat ketika bersin. Hujan datang paling sering pagi hari dan sore hari. Bikin susah yang mau lari/jogging, atau berenang.
Januari ini didominasi juga oleh cuaca dingin, menggerus tulang. Catat persiapan Januari di Bandung: jaket-jaket, syal, scarf yang hangat dikeluarkan. Banyak itu perlu, bukan untuk variasi, tapi karena setelah dicuci para penangkal dingin itu akan susah kering. Matahari mulai dirindukan di sini. Udara dingin yang menusuk disponsori oleh angin gelebug yang bertiup kesana kemari. Tiupan angin bukan lagi membelai, tapi menampar atau minimal mendorong, menyerempet. Kecepatan dan kekuatan angin sebetulnya baik untuk cucian, tapi kalaupun kering, cucian dingin tidak terasa seperti cucian kering. Eumeul-eumeul yang tidak bau lembab lah hasilnya.
Posisi matahari masih di selatan. Posisi menguntungkan karena itu artinya kolam renang apartemen kami akan disinari matahari, sama dengan, airnya akan lebih hangat, sama dengan, berenang dingin pun masih bisa dimaafkan karena airnya sedikit hangat. Tapi sayang sekali matahari jarang berkunjung, sehingga membuat hubungan saya dengan kegiatan berenang memburuk, dipenuhi kekesalan karena enggan membeku walaupun kesal itu cepat membatu.
Senja jarang menampakkan diri, demikian juga fajar. Keduanya sering ditutupi awal tebal yang makin berat menggantung penuh hingga nampak keabuan. Tapi saat mereka sempat terlihat, bisa dipastikan penampakannya fantastis seperti biasa.
Demikian pantauan saya sementara ini.
Januari ini dipenuhi hujan gerimis tapi rapat seperti sisir kutu. Hujan besar seperti kerikil tumpah juga lumayan sering turun, secara keseluruhan masih didominasi hujan kutu *eh*. Frekuensi hujan seperti ingus. Ada kalanya seperti ingus disaat kita sedang perlu tampil prima; turun naik dengan sangat cepat, begitu seterusnya berulang-ulang hampir sepanjang hari, dengan sesekali diselip interval kering, mendung, gloomy yang lama. Ada kalanya hujan seperti ingus anak kecil yang tidak peduli; turun perlahan, taking its time, lama dan bertahan di tempat yang sama dalam kurun waktu yang seolah abadi. Ada kalanya juga hujan datang seperti ingus yang loncat mengejutkan saat kita bersin; tidak terduga, tidak dinantikan, dan datang dalam intensitas besar hampir membanjiri, namun hanya sebentar. Sesaat saja yang diperlukan untuk merusak rencana, sebagaimana sesaat saja yang diperlukan untuk bikin malu saat ingus loncat ketika bersin. Hujan datang paling sering pagi hari dan sore hari. Bikin susah yang mau lari/jogging, atau berenang.
Januari ini didominasi juga oleh cuaca dingin, menggerus tulang. Catat persiapan Januari di Bandung: jaket-jaket, syal, scarf yang hangat dikeluarkan. Banyak itu perlu, bukan untuk variasi, tapi karena setelah dicuci para penangkal dingin itu akan susah kering. Matahari mulai dirindukan di sini. Udara dingin yang menusuk disponsori oleh angin gelebug yang bertiup kesana kemari. Tiupan angin bukan lagi membelai, tapi menampar atau minimal mendorong, menyerempet. Kecepatan dan kekuatan angin sebetulnya baik untuk cucian, tapi kalaupun kering, cucian dingin tidak terasa seperti cucian kering. Eumeul-eumeul yang tidak bau lembab lah hasilnya.
Posisi matahari masih di selatan. Posisi menguntungkan karena itu artinya kolam renang apartemen kami akan disinari matahari, sama dengan, airnya akan lebih hangat, sama dengan, berenang dingin pun masih bisa dimaafkan karena airnya sedikit hangat. Tapi sayang sekali matahari jarang berkunjung, sehingga membuat hubungan saya dengan kegiatan berenang memburuk, dipenuhi kekesalan karena enggan membeku walaupun kesal itu cepat membatu.
Senja jarang menampakkan diri, demikian juga fajar. Keduanya sering ditutupi awal tebal yang makin berat menggantung penuh hingga nampak keabuan. Tapi saat mereka sempat terlihat, bisa dipastikan penampakannya fantastis seperti biasa.
Demikian pantauan saya sementara ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)