On the account of tracking what's the weather like for long term study (personal pursue), I decided to write a post about what's the weather like - in general- month by month. Here is my observation.
Januari ini dipenuhi hujan gerimis tapi rapat seperti sisir kutu. Hujan besar seperti kerikil tumpah juga lumayan sering turun, secara keseluruhan masih didominasi hujan kutu *eh*. Frekuensi hujan seperti ingus. Ada kalanya seperti ingus disaat kita sedang perlu tampil prima; turun naik dengan sangat cepat, begitu seterusnya berulang-ulang hampir sepanjang hari, dengan sesekali diselip interval kering, mendung, gloomy yang lama. Ada kalanya hujan seperti ingus anak kecil yang tidak peduli; turun perlahan, taking its time, lama dan bertahan di tempat yang sama dalam kurun waktu yang seolah abadi. Ada kalanya juga hujan datang seperti ingus yang loncat mengejutkan saat kita bersin; tidak terduga, tidak dinantikan, dan datang dalam intensitas besar hampir membanjiri, namun hanya sebentar. Sesaat saja yang diperlukan untuk merusak rencana, sebagaimana sesaat saja yang diperlukan untuk bikin malu saat ingus loncat ketika bersin. Hujan datang paling sering pagi hari dan sore hari. Bikin susah yang mau lari/jogging, atau berenang.
Januari ini didominasi juga oleh cuaca dingin, menggerus tulang. Catat persiapan Januari di Bandung: jaket-jaket, syal, scarf yang hangat dikeluarkan. Banyak itu perlu, bukan untuk variasi, tapi karena setelah dicuci para penangkal dingin itu akan susah kering. Matahari mulai dirindukan di sini. Udara dingin yang menusuk disponsori oleh angin gelebug yang bertiup kesana kemari. Tiupan angin bukan lagi membelai, tapi menampar atau minimal mendorong, menyerempet. Kecepatan dan kekuatan angin sebetulnya baik untuk cucian, tapi kalaupun kering, cucian dingin tidak terasa seperti cucian kering. Eumeul-eumeul yang tidak bau lembab lah hasilnya.
Posisi matahari masih di selatan. Posisi menguntungkan karena itu artinya kolam renang apartemen kami akan disinari matahari, sama dengan, airnya akan lebih hangat, sama dengan, berenang dingin pun masih bisa dimaafkan karena airnya sedikit hangat. Tapi sayang sekali matahari jarang berkunjung, sehingga membuat hubungan saya dengan kegiatan berenang memburuk, dipenuhi kekesalan karena enggan membeku walaupun kesal itu cepat membatu.
Senja jarang menampakkan diri, demikian juga fajar. Keduanya sering ditutupi awal tebal yang makin berat menggantung penuh hingga nampak keabuan. Tapi saat mereka sempat terlihat, bisa dipastikan penampakannya fantastis seperti biasa.
Demikian pantauan saya sementara ini.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment