I was fiddling with my mind.. terciptalah sebuah tulisan yg tadinya mau md pasang di skolah di forum tulisan2 kakak. tapi.. I dont know if this one suits them. I kinda feel.... I dont know.. uneasy? but maybe somepeople need to read this..
so.. might as well let you read it.
Menggapai kedewasaan.
Sudahkah kugapai makna kedewasaan? Sudahkah aku dewasa? Mengingat umurku mendekati setengah abad, dan setiap hari membandingkan diri dengan adik-adik kecil yang hampir 20 tahun lebih muda dariku, rasanya wajar kalau aku menyatakan diri sebagai seorang dewasa. Tapi pada kenyataannya, adik-adik kecil itu membuatku berpikir lagi.
Menjadi dewasa seharusnya menjadi bijaksana. Tapi, aku banyak belajar kebijaksanaan dari adik-adik kecilku ini.
Kulihat adik-adik bermain bersama. Tentu ada saja konflik, ketidaksengajaan, ketidakpekaan, ketidakterimaan dan ketidaksetujuan antara mereka. Bertengkar sana sini, manyun sana sini, BT sana sini. Ujung-ujungnya, entah salah satu ataukah kedua belah pihak bertikai bertemu pada perkataan ‘maaf’ yang tulus. Mereka kembali bermain bersama seperti tidak terjadi apa-apa. Karena itu lah kita mengenal beberapa pasangan ‘awet-rajet’ yang sungguh menggemaskan. Dan ku berpikir... Betapa kita telah dihadiahi kemudahan berkata ‘maaf’ dari sejak kecil, yang kerap kali menjadi gersang kala dewasa. Betapa kita menelantarkan ‘hadiah’ itu dan menjadi individu-individu pendendam, egois dan menjunjung tinggi gengsi. Hanya orang dewasa yang mengenal kata ‘jaim’ – jaga image-. Itu kah harga kedewasaan?
Kudekati adik-adik kecil ini. Kudampingi dan kutemani mereka belajar tentang lingkungan mereka, dan pelajaran-pelajaran hidup lainnya. Tak jarang mereka perlu diingatkan, ditegur dan diberi tahu oleh ku, oleh kakak yang lain, oleh teman sebaya mereka sendiri, bahkan oleh teman mereka yang lebih kecil.. lebih muda. Dan anehnya, dengan mudah mereka menerima teguran, mengakui, dan minta maaf sebelum akhirnya memperbaiki kesalahannya. Walaupun diimbuhi manyun-manyun sesaat, tapi mereka terbuka pada kritikan dan berusaha menindaklanjuti kritikan tersebut. Dan kembali ku berpikir... Betapa kita telah dihadiahi karakter open minded sedari dini yang kerap kali menjadi kaku dan beku kala dewasa. Betapa kita menelantarkan ‘hadiah’ itu dan menjadi individu-individu yang keras kepala, egois, sensitif, pemarah dan merasa diri paling benar. Itu kah harga kedewasaan?
Sudah dewasa kah aku? Tidak ada yang gratis di dunia ini, tapi semahal itukah harga kedewasaan? Dewasa... oh dewasa...
Menjadi dewasa. Sungguh berat. Apakah itu tanggungjawab? Ataukah beban? Yang jelas tiap kita tidak punya pilihan lain selain menerima tugas berat itu. (md)
Monday, 28 April 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment