Tuesday, 9 June 2009

melepaskan diri

sudah 2 taun yah aku officially pulang dan mengemban pada tanah air.
memang kerasa banget duka dukanya.. apalagi dari itungan duit.. jauh beda lah dengan waktu dulu biarpun dulu kerjanya partime.. bukan berarti ga ada sukanya. banyak juga lah

tapi bukan itu yang jadi pemikiranku sekarang.
yang kerasa banget semakin hari semakin menggerogoti dan bikin ga nyaman adalah perbedaan mencolok yang dirasakan di sini. di Indonesia.

Kenapa ya semakin hari sepertinya semakin sulit untuk objektif? Melepaskan diri dari egosentrisme dan emosi-emosi ataupun gengsi yang melekat walaupun tak bermanfaat.

Beda banget ama waktu di Melbourne, rasanya seperti lebih mudah untuk positif dalam hari-hari, untuk positif thinking sama orang-orang, untuk melihat lebih jelas inti masalah dan berusaha menyelesaikannya, untuk menetapkan dan meneguhkan hati bahwa 'berusaha menyelesaikan masalah' ada di urutan pertama. itu sulit sekali

contoh nih, kenapa sulit sekali berargumen just for the sake of having argument? ngga tau karena disini memang kita tidak terbiasa menggemari hobi 'beradu argumen' beda dengan org ostrali yg emang nyolot senang berargumen untuk meluaskan wawasan, membuka sudut pandang dan cara berpikir yang berbeda-beda. seringkali terjebak pada situasi 'berargumen yang menang berarti itu yg bener' di sini. dan mau ga mau yg tadinya niatannya membuka sudut pandang dan meluaskan cara berpikir.. ya karena tujuannya ga kecapai-capai.. yaaa akhirnya terjebak di dalamnya dan ikut-ikut jadi emosian. dan itu sudah semakin tumbuh di keseharianku sekarang..
kemana aku harus pergi to shake off those stupid unnecessary habits from my body? gatau.. yang jelas sama seperti tanah yang ditumpuk, lama-lama menjadi bukit dan semakin sulit disingkirkan

itu baru satu, belum lagi 'trickle down effect' dari hal tadi kebiasaan baru diatas. saat ada masalah.. sulit rasanya minta maaf karena gengsi lah, karena menurut kita sudut pandang atau cara berpikir kita yang lebih benar lah ini lah itu lah... hfff...
jadinya gimana mau nyelesein masalah kalau prioritas utamanya juga 'membuat lawan kita MENERIMA sudut pandang dan cara berpikir kita'... mana mau selesai?! ck

yang paling parah adalah.. hal ini semua ketika direfleksikan, aku bisa menyadari dan malu dengan kenyataan bahwa aku bisa menjadi seperti itu. Tapi dalam prakteknya, sulit sekali kembali mengusung traits yang sempat ditanamkan dan dilatih ketika kuliah dulu. Sulit sekali untuk menjadi positif seperti dulu.

disini, dirumahku di tanah airku.. sepertinya mudah sekali kita diputuskan harapan, dimatikan idealisme, dikuburkan kebaikan..

di sini, di rumahku, di tanah airku... sulit sekali menjadi orang dewasa..
apalagi menjadi bijaksana

Tuhan, bantu aku melepaskan diri dari sifat-sifat yang akan merugikanku dan merugikan orang lain...
Tuhan, aku menyerah..

0 comments:

Post a Comment

© wondering clouds 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis