Monday, 12 December 2011

yakin pulang

yep, skarang sudah pasti for good ke indo tanggal 13 maret 2012 dari melben.
jadi inget respon si agnar kemaren pas tau eyke mu porgut "again?!!" hehehehe.. yes me darling, again.

spertinya ga habis habisnya berulangkali harus cerita kenapa saya mau for gut. ditanya, kenapa harus pulang? mengingat hidup di melben sungguh indah, segala teratur dan cenderung lebih mudah memulai hidup dari NOL dibanding di indo. placement buat kerja pun bukannya ga ada yg nawarin. will definitely make it so much easier to apply for permanent residency. tapi kenapa pulang?

pulang.. for my people. children of my country. walaupun berbakti pada tanah air tentu sangat bisa dilakukan dari jauh, bahkan untuk banyak kasus sebenernya bisa lebih terbantu mengingat currency rate yang helpful. tapi tidak untuk saya.

makanya kok rasanya selalu sperti songong, stuck up, atau kadang ditangkepnya cynical kalo harus mengulang ulang cerita alasan kenapa saya harus for good.

mari kita tulis cerita dari hati paling dalam. sekali lagi..
saya tumbuh besar di kampung kampung tanah air, miskin fasilitas tapi kaya akan natural resources, cahaya matahari, mainan kampung, dan temen temen kampung yang tidak suka tidur siang dan kabur main di lapangan atau kebon tebu punya orang.
kalau bernostalgia, karena pindah pindah dari kampung satu ke kampung lain, saya jadi observant akan culture (masih kecil lingkup culture justru sangat luas: makanan, logat/bahasa/word choice, mainan, games, cemilan) yang beda beda antar kampung, antar kabupaten, antar propinsi, antar pulau. makin jauh dari peradaban kota kampung itu, makin menyenangkan anak2 temen mainnya.
kalau sekarang ngeliat hidup di melben bahagia, inget temen2 dulu.. berharap sharing kenikmatan dan keindahan ini ama mereka, tanpa mengambil keindahan bersama mereka.

kalau dipikir2, jaman sekarang mungkin anak2 kampung udah sama mainan atau gamesnya, mungkin ga jauh2 dari GTA, atau world of warcraft, atau tontonannya sama, makanan sama karna pengen makan yg di tipi tipi, jajanan dan cemilannya sama, logat atau bahasanya sama (bahasa gaul).. haduh.. anak anak ku nanti akan hidup di keseragaman budaya yang tak terelakkan. spertinya memang tak terelakkan..

yang saya mau, saya mau anak anak saya tumbuh bersama anak kampung, dan suasana kampung, minimal kaya natural resources... biarpun keseragaman budaya itu misalkan tak terelakkan, saya pengen mengajarkan anak anak saya lebih peka dengan senses nya, ngga melulu disuapin teknologi tanpa menggunakan teknologi yang sampai sekarang belum terkalahkan: teknologi ciptaan Tuhan: manusia. all the faculties of human beings harus dilatih untuk sensitif, dan saya pengen anak2 anak saya terdidik menggunakan senses yang ada dalam dirinya semaksimal mungkin tanpa bantuan elektronik. dengan demikian mereka punya freedom untuk hidup dengan cara apapun mereka mau, kalau pun mereka mau hidup extremely plug-in, I want it to be their decision because they want it. not because they have no choice other than that they have to live with it.

there I said it.

knapa harus pulang for good? because the memory of my childhood friends whom I grow up with, call me to educate their children, to educate my children. educate my future people. my own kind. I guess, I like to say.. I want to start with myself, my family, my neighbour.

ow, to make matters easier, kangmas yang sungguh penuh dukungan adalah such a treasure yang ga bisa dilupakan untuk di mention. kalau kita mau merantau harus ada bekal ilmu, dan sedikit uang saku, kalau saya bekalnya adalah ilmu dan suami yang supportive. hehehe. insyAllah hidup dimana pun bagja. hehehe

jadi, biarpun letak dan lokasi yang kelak akan saya sebut "rumah" itu belum pasti.. tapi untuk sekarang, rumah adalah nusantara.

0 comments:

Post a Comment

© wondering clouds 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis