Friday, 20 December 2013

tamparan realita 6 tahun yang lalu

Banyak sekali yang ingin dibahas di sini. Tapi untuk sekarang marilah membahas keadaan yang tidak kasat mata. Keadaan yang heboh dan bikin banyak orang kesal, stres, frustasi dan lain-lain: macet dan banjir sekitar Bandung.

Kenapa kok bahas ini? Terutama karena ingin mengingatkan dengan kejadian yang lalu. Lalu yang lampau.

Sekitar tahun 2007, saya masih kerja di sebuah majalah bertema lingkungan, pada edisi ulangtahun Bandung (berarti sekitar bulan September, 6 tahun yang lalu), kami diundang untuk datang dan ngobrol masalah lingkungan Bandung di sebuah radio. Masalahnya kurang lebih masih sama, macet, sampah, penebangan pohon dimana-mana, alih fungsi lahan. Di masa itu, macet yang separah sekarang masih "istimewa", yakni hanya karna ada acara-acara atau situasi-situasi tertentu, walaupun macet mengesalkan sudah sering juga.

Lalu di acara radio tersebut, kami bahas dan kami tumpahkan fakta-fakta dan kecenderungan pertumbuhan ekonomi Bandung yang menggilas lingkungannya, dan apa yang akan terjadi kelak kalau begini terus. (ingat, tahun 2007 lho!) Tentu ujungnya adalah membuka mata dan kesadaran penduduk atas apa yang kita lakukan kepada kota kita tercinta ini. Tapi di penghujung acara, pas acara tanya jawab, masih aja beberapa orang berkomentar begini.. "Gapapa lah macet mah, yang penting kan ekonomi maju, uang masuk.." katanya. Itu teh setelah panjang lebar dibahas efek buruk ke depan pembangunan yang tidak mengindahkan lingkungan. Heug!

Enam tahun kemudian, ini lah kita sekarang di tahun 2013. Bandung sudah makin terang, makin banyak dapat matahari (tentunya karena banyak pohon yang ditebang, untuk memberi jalan mobil dan lahan parkir), halaman-halaman dibeton atau dipaving untuk jadi carport atau parkir, rumah-rumah disulap jadi toko-toko dan restoran, bis-bis wisata mengalir terus masuk Bandung, Lembang pun sudah penuh sesak dengan situs wisata, outbound, jajan dan lain-lain, dengan catatan pohonnya juga digundulin, banyak yang diganti dengan billboard atau papan iklan yang terang.
Berita kemarin saja, hujan besar, banjir dimana-mana. Setiabudi seperti sungai. Setiabudi!! daerah utara, daerah tinggi!! bayangkan daerah rendah! Dayeuhkolot mah udah jelas gimana terendamnya. Pasteur mah udah sempet aspal terangkat dan jumpalitan. Macet dimana-mana. Cihanjuang aja banjir!
Dua hari yang lalu dari daerah UPI ke daerah setrasari, yang biasa 10 menit jalur biasa, ditempuh dalam waktu hampir bulat satu jam setengah!! Edun!

Nah enam tahun kemudian dari acara di radio itu, saya pengen bilang sama yang komen "yang penting ekonomi maju".. pengen bilang "told you so!" liat banjir macet dimana-mana! Tapi orang yang bilang gitu mungkin orang yang ga terlalu peduli dengan kehancuran kota Bandung. Mungkin dia tidak kena imbasnya (karna ngga tinggal di Bandung, atau kemana-mana di Bandung pake pengawal atau sekalian naik helikopter). Mungkin orang-orang itu, kalau Bandung lagi kacau gini, dia tinggal liburan ke Luar Negeri mengunjungi rumahnya di negara lain. Yang kena impas paling pedih adalah orang-orang kecilnya, yang mungkin ga berkuasa banyak untuk menyetop penggundulan habis pohon-pohon, atau menghalangi mobil-mobil mewah buang sampah di jalan seperti tidak mampu beli tempat sampah. Orang-orang kecil yang harus nunggu angkot 1 jam karena angkot penuh dan kejebak macet, yang harus jalan nyeker berkilo-kilometer karna akses pulang digenangi air, atau justru yang harus tidur dempet-dempetan di para loteng rumahnya karena banjir sudah menghabiskan isi rumahnya.

Haduh, kotaku, kurang sedih apa lagi kita ini.
Haduh.. kurang rusak apa lagi kita ini.
Bisa apa lagi kita sekarang?

Kita bisa... terus berbuat... terus mendidik.. terus berharap.
Buang sampah pada tempatnya, bersihkan solokan, biopori, naik sepeda, jalan kaki, transportasi publik, sebarkan fakta-fakta, dan mengimani bahwa, semua hal yang kita lakukan akan ada hasilnya kelak.

Terus berharap
Karena harapan yang menghidupkan kita
Harapan yang menghidupi kota kita
Harapan yang menghidupkan manusia
Harapan yang memanusiakan hidup

0 comments:

Post a Comment

© wondering clouds 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis