Friday, 20 January 2012

tahun baru, refleksi pengantin tidak baru

Selamat tahun baru temans, mudah mudahan jadi tahun yang penuh ladang guna dan manfaat bagi manusia banyak. amin
Kebiasaan tahun baru sebenernya standar aja, banyak liat ke tahun tahun sebelumnya, refleksi, dan liat kondisi saat ini. mana mana yang kelewat, dibayar; mana mana yang salah, dibenerin; mana mana yang bener, ditepuktanganin. hahaha
Menjelang bulan bulan akhir tahun 2011, temen-temen banyak yang menyentuh isu keluarga. baik punya  baby (lagi), memutuskan menikah (lagi), pindah (lagi), atau apapun yang menyangkut keputusan dalam berkeluarga. terutama tentang menikah, jadi pengen cerita soal ini.
Gara-garanya ada temen yang bilang gini "indahnya pacaran setelah menikah", dan sebenernya itu bukan pertama kalinya denger komentar atawa opini seperti demikian.
Trus mari kita urai train of thought yang terjadi setelah membaca komentar seperti itu

Pacaran itu apa sih? kok bisa bisanya lebih indah sesudah menikah tapi banyak org yg pacaran ga mau nikah?
Lalu saya ingat. saya sempet melontarkan statement "saya mah ga mau lagi pacaran, langsung nikah aja" dan statement itu lah yang membawa saya pada persetujuan dengan suami saya sekarang ini
(S= Suami M= saya)
S: ya udah kita nikah aja
M: tapi saya maunya nikah umur 25. 2 tahun lagi, paling cepat 1,5 tahun lagi (waktu percakapan in terjadi saya masih 23.
S: ya saya juga butuh waktu buat mempersiapkan diri saya supaya siap jadi suami. 2 tahun insyAllah cukup lah.
M: ya sudah dicukupkan saja, yang 2 tahun ini kita pake persiapkan diri secara fisik mental dan kemapanan.--
Demikian lah kesepakatan kami kurang lebih terjadi.

Balik lagi ke pertanyaan pacaran itu apa. Saya sendiri sebelum melontarkan pernyataan ga mau pacaran lagi, sudah mempertanyakan konsep plus dan minus pacaran.
Memang si konsep pacaran itu tidak pernah jelas batasannya, ataupun rupanya di mata saya. (catat! di mata saya). Makanya, kasihan lah para mantan pacar saya.. hahaha.
Bagi pasangan yang pacaran, batasan-batasan sebagai pasangan yang mengikat keduanya harus lah disetujui oleh keduanya. negosiasi persetujuan ini lah yang saya pikir bikin konflik-konflik dalam berpacaran.
Sementara batasan-batasan ini jadi lebih jelas bentuk dan rupanya ketika sudah menikah. batasan-batasan pasangan suami istri dibuat sejelas mungkin (kadang sangat jelas sampe membatasi dan tidak flesible) oleh agama, norma masyarakat, dan ekspektasi dari pihak eksternal lainnya (termasuk keluarga besar pasangan).
(contoh: pas pacaran tidak jelas apakah kalau mau main sama teman teman beda jenis harus ada ijin atau santay aja, da temen ini. kalau udah nikah JELAS, ada expected courtesy to at least notify keberadaan diri dan dengan siapa. kalau pacaran batasannya dan hukuman nya ga jelas kalau dilanggar, batas garis dimana melanggar atau tidak pun masih ga jelas. kalau udah nikah, JELAS)
jadi kalau dibilang lebih indah pacaran setelah menikah, mungkin maksudnya lebih mudah dan lebih santai karna aturan2 nya sudah sah. kalo pacaran aturannya masih relatif baik di mata adat, sosial maupun agama, apalagi di mata hukum.
jadi kesimpulan saya, knapa dulu saya melontarkan ga mau pacaran lagi, pasti karna saya pemalas bernegosiasi ttg hal-hal yang mengikat namun tidak pasti. hehehehehe
why worry? I'm married!
:)
© wondering clouds 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis