apa ini?
hari minggu ini si sayah menghabiskan waktuu diem di rumah nonton film downloadan, nyicil packing buat for good, baca buku dan malas-malasan. deskripsi buat malas-malasan adalah, ngoprek dan mentengin twitter, wikipedia, imdb, kompas dan detik dan beberapa web berita, juga sempet ngebuka facebook sekejap mah.
nah, pas ngebuka twitter dan facebook ini lah pikiran ini seolah ngacung minta diperhatikan di dalam otak sementara pikiran-pikiran lainnya duduk manis sambil nundutan. bilang apa si pikiran yang ngacung ini? begini katanya:
begitu buka facebook langsung disodorkan news feed, sementara hidup di twitter isinya timeline yang diocehin. sebagian besar dari ocehan-ocehan yang dibaca di facebook atau twitter adalah dari teman-teman atau keluarga. nah komen komen ini kadang suka memancing keingintahuan kita pada teman-teman lama kita, apa kabarnya, sekarang kerjanya apa, tinggal dimana, udah punya anak atau udah berkeluarga atau belum yada yada yada... dan makin lah penasaran sampe nyari teman-teman yang dulunya nyebelin, rival atau arch nemesis ditilik di kehidupan masa kini.
hal-hal demikian ini seperti feed into a characteristic of (I would say manusiawi), yakni semacam "usil" alias "hayang nyaho wae" yang berbuntut pada "ngomongin orang" karna ga tahan pengen komen. Nah, karen biasanya orang-orang yang dicari info-nya adalah orang yang sudah lama kita ga ketemu atau ga denger kabarnya, mulailah dengan gatel membanding2kan dia jaman dulu dan jaman sekarang. misalnya, dulu dia mah legeg, tara sakola, skarang jadi caleg, MISALNYA. atau dulu dia culun, oon, skarang jadi anak gaul, MISALNYA. atau dulu dia pinter, cantik, soleh, bageur, sekarang jadi wanita karir, MISALNYA. dan lain-lain. Masalahnya buat saya, kegiatan-kegiatan nongkrongin social media semacam ini lah yang akan melekatkan saya selalu dengan masa lalu, dengan coba mengingat2 mreka dimasa lalu bagaimana dan sekarang bagaimana. Syukur-syukur kalau ngga membandingkan kecepatan mereka meraih "sukses" (whatever that means), dengan kecepatan yang saya tempuh. rasanya seperti membuang waktu membuat diri terperangkap dengan masa lalu instead of melihat ke masa depan. Lucunya lagi, perangkap ini dimungkinkan dengan perkembangan teknologi. Kalau liat jaman dulu, kyaknya orang-orang paduli teuing sama temen2 smp atau sma nya udah jadi apa sekarang. ya mungkin mereka peduli, tapi karena ga ada tools, yg memerangkap mereka untuk "terlalu peduli" (yakni internet ini), mereka jadi lebih fokus dengan menikmati hidupnya sendiri yang ada di hadapannya. ya sesekali ada reunian, seru lah, tiap lima tahun, sepulun tahun yada yada yada. tapi kalau info yang bisa diomongin seru direuni jadi bahan "tontonan" keseharian, ntar pas reuni bisa seru-seruan dengan bahan apa? wallahualam.
mungkin ini artinya mengurangi menghabiskan waktu di depan screen (baik HP ataupun komputer), dan mulai menikmati kehadiran manusia dan makhluk lain di sekeliling kita. sesekali kita liat tengok ke masa lalu tentunya sehat. tapi kalau terus menerus, sampe hidup yang dijalani jadi sulit dinikmati mah.. ah, apa gunanya.
toh teknologi diciptakan untuk membantu kita lebih mudah menikmati hidup. bukan teknologi dibuat supaya kita bisa hidup. brarti kalo gada teknologi ga bisa hidup dong? owno. jadi jangan sampe kita yang dikotrol oleh teknologi. ga bisa hidup tanpa HP, ga bisa hidup tanpa internet. ih amit-amit lah.
wah ternyata si pikiran yang ngacung tadi langsung disahut dengan pemikiran lain dan sebagainya sehingga terjadi diskusi di dalam pikiran seperti demikian di atas.
diskusi berlanjut di kepala...