It has been a while. A long long while...
Memang bila dibandingkan dengan banyak pasangan, penantian kami belum seberapa. Tapi dibandingkan dengan banyak pasangan lain, penantian kami sungguh lama. Pedih, dan mengisi.
Tapi bukan itu yang mau dibahas sedikit disini. Yang mau dibahas disini ada beberapa efek samping dari penantian lama ini dan juga sedikit berharap jadi bahan kepikiran orang-orang yang lebih beruntung.
Merespon berita baik: kehamilan teman, kelahiran putra putri teman.
Tentu respon awal pasti turut bahagia dong. Tapi, langsung susul menyusul dengan perasaan sedih, dan merasa gagal sebagai perempuan. Dan perasaan harus sabar, tegar dan sebagainya. Lama-lama proses dan siklus ini udah semakin sering, dengan harapan 'ala bisa karena biasa', begitu juga saya berharap lama-lama perasaan semakin tumpul, dan jadi "biasa" dengan proses ini. Biar begitu, untuk sementara ini, saya tidak terlalu bersemangat menengok teman yg baru melahirkan, atau ketemuan dengan teman yang lagi hamil. Saya biarkan mereka bahagia dengan berkahnya. Saya pun demikian.
Merespon pertanyaan lebih lanjut.
Ya, level dua dari pertanyaan "kapan dong?" yakni pertanyaan "udah periksa?" atau "udah coba ini/itu/gini/gitu?". Jawabannya apa dong kalau gini? Biasanya gaakan puas hanya dengan dijawab "iya udah". Ini jenis pertanyaan pengen dibahas. Padahal paling males bahas beginian. Sudahlah. Kalau lagi baik dan santun, pertanyaan itu diwaro. Kalau lagi males, ya sudahlah. Intinya, kira-kira selama ini kita ga kenal gugel dan forum-forum apa ya? smua yg bisa dicoba, emangnya ga akan kita coba? Ya sih maksutnya baik, tapi kira-kira selama bertahun-tahun ini kita ga pernah ketemu org yang nyaranin sesuatu gitu ya? seringkali sarannya serupa tapi variatif. ya sudahlah, terimakasih sarannya.
Merespon pernyataan kasihani.
Kalau cuma dibilangin "yang sabar ya" itu paling enak. Jawabnya tinggal nuhun. Kalau dikasih embel-embel tentang penjelasan "kesiapan" itu memuakkan sebetulnya. Lha wong anak remaja yg "kecelakaan" kan ga pake siap-siapan segala. Itu berkah, siap ga siap.
Trus ada lagi yang jenisnya pake semacam "mumpung belum, nikmati kebebasanmu" dan begitu begini. Nah yang ini agak capek jawabnya. Disangkanya kita ga paham bentuk fisik ga karu-karuan, disangkanya kita ga tau soal kurang tidur, disangkanya... ah banyak lah. seperti semuanya hanya kesulitan (yang padahal sebenernya nampak dari binar matanya, bahwa capeknya itu membahagiakannya). tidak perlu merendah karena kami tau itu sama sekali tidak rendah, sama sekali mulia. ya sudahlah, terimakasih simpatinya.
Rasa malas dan enggan berkumpul (dengan teman dan/atau keluarga).
Ya ini sih sama kaya berita baik yang tadi di atas. Ngumpul ama keluarga masih lebih mending, ngumpul ama temen yang parahh.. karena bahasannya, nyekolahin anak, makanan pertama, mainan, baju, kelucuan kelucuan mereka. Yah.. daripada bengong ga bisa sumbangsih, mending ga dateng aja deh.. lebi aman. hehehe..
Demikian efek samping sementara.
I am sure time will heal.
Dan efek samping pun akan mereda, dan semua kembali normal.
or not..