Monday, 8 January 2018

derita mereka yang merawat

kita pernah sakit, rasanya tentu tidak karuan.
kita pernah stress, pun rasanya tidak karuan.

sakit fisik, mental maupun emosional efeknya sama juga, biarpun intensitas nya berbeda.
yang jelas kita menderita.
dan sadar atau tidak, orang-orang sekeliling kita pun menderita.
utamanya tentu karena khawatir, tapi persenan besar juga pasti ada yang merasa bersalah. pada titik lain juga ada rasa kasihan.

yang sering terlewat adalah mereka yang merawat kita. baik merawat karena terpaksa (tidak ada lagi yg bisa merawat), atau karena mereka sebegitu sayang dan kasihan ingin mengurangi rasa sakit kita.
masalah ikhlas, atau tidak, akan menjadi pilihan pribadi yang tak bisa kita -si sakit- ganggu gugat.
sebagai si sakit yang dirawat, kita hanya bisa berterimakasih dan bersyukur atas kontribusinya merawat kita.

lalu yang sering juga terlewat adalah cara mereka merawat kita.
sebetulnya poin ini yang sedang sering bergemuruh di kepala saya, dan mengusik kedamaian saya.

alkisah seorang anak, yang juga sudah punya anak bahkan cucu. di hari hari mulanya ialah yang selalu merawat ibunya dengan telaten dan suka hati. sang ibu pun sangat menikmati dan bersyukur anaknya yang ini lah yang 'standby' untuk merawatnya full-time.
hingga suatu waktu, mereka yang hidup berkekurangan namun dalam damai sampai pada titik betul-betul kekurangan. anak sang ibu yang lain tidak bisa menyumbangkan bahkan untuk keseharian mereka. akhirnya sang anak yang pun sudah tua meminta tolong kakaknya untuk berganti mengurus ibunya selama ia bekerja di luar sana, dan ia pun menghidupi ibunya, juga kakaknya sekeluarga yg menggantinya merawat ibunya.
hingga suatu waktu si anak diberi kabar ibunya meninggal. ia pun segera pulang dengan hati hancur lebur. saudara-saudaranya semua membencinya dan membuang wajah saat ia datang ke makam ibunya yang sudah ditutup. ia terlambat. pun ia tidak tahu-atau tidak ada yang memberi tahu ketika ibunya gawat dan masuk rumah sakit. meninggalnya pun diberi tahu setelah pemakaman dimulai.
derita sang anak, yang tak memperoleh detik-detik terakhir dengan sang ibu, dan dimusuhi saudara-saudaranya yang ia nafkahi karena terlambat datang.

terkadang merawat si sakit bukan hanya dengan menungguinya, tapi juga dengan  meninggalkannya, agar dunia tetap berjalan dan si sakit bisa dirawat dengan nyaman, dan yang menunggui bisa hidup dengan nyaman. mereka yang memenuhi kehidupan si sakit dan si penunggu pun adalah mereka yang merawat. merawat dalam derita.

alkisah seorang anak menderita depresi menahun, dan seorang ibu yang sendirinya tidak lah sehat namun tetap bertekad merawat sang anak. sang anak yang depresi tidak mau bahkan membuka kamar. sang ibu yang mulai putus asa mendekati sang anak mulai dari lembut hati, menyiapkan dan menyediakan semua kebutuhannya sendiri, hingga ia mengajak ke terapis dan lain segalanya, tetap tidak mempan hingga sang ibu putus asa dan kesal, menunjukkan kekesalannya sesekali. si anak semakin depresi sang ibu semakin putus asa.

merawat si sakit itu berat. terkadang derita yang ditanggung tak jarang menjadi sumber sakit sendiri. sehingga lingkaran setan terjadi. apalagi ketika yang merawat pun dalam keadaan tidak sepenuhnya sehat (sakit badan, atau sakit mental, atau sesederhana sakit ekonomi). dan semakin menjadi ketika si sakit tidak mensyukuri dan berterimakasih atas pengorbanan yang merawatnya.

bahwa merawat si sakit dengan kekhawatiran pun bentuk kasih sayang,
bahwa merawat dengan meninggalkan si sakit demi memutar roda kehidupan bagi yg lain pun juga pengorbanan
bahwa merawat dengan rasa kesal karena tak berdaya mengurangi kesakitan dan menyembuhkan si sakit pun adalah kasih sayang

maka terima lah mereka yang merawat,
akui derita mereka dalam merawat
dan berbuat baiklah selalu, karena kamu tidak pernah tahu dalam derita mana mereka merawat siapa

with love to those who love,
m.

0 comments:

Post a Comment

© wondering clouds 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis