Wednesday, 3 January 2018

bahasa jadul, romantis atau semata indah?

Kerap senyum-senyum sendiri dengar susunan kata yang sedikit ajaib di masa kini. Utamanya sang anak sedang banyak-banyaknya mengolah kata. Jadi banyak susunan kata yg terdengar lucu, kadang malah lebih indah. Apalagi di usia segini (sekarang 3 tahun) anak itu belum bisa berfikir secara internal, alias befikir "dalam hati". Jadi semua yang lewat di kepalanya keluar lewat mulutnya, sadar atau tidak sadar. Cerewed pisan duh Gusti!

Lalu pada waktu waktu mendongeng pun saya jadi sangat selektif memilih kata-kata yang menggambarkan dongengnya. Dongeng itu negeri indah antah berantah, sungguh enggan rasanya kalau penggambarannya dengan bahasa sehari-hari yang kering dan lurus juga sempit rasanya sayang sekali.
Lalu bahasa yang kaya dan indah itu yang bagaimana? Yang jelas untuk saya, bahasa yang menghangatkan dan bikin tersenyum mendengarnya atau membacanya.

Sederhana saja, mengganti "kamu" dengan "engkau" sudah bisa mengundang senyum.
Rasanya romantis. Romantis karena mamanggil dunia penuh rasa nun di antah berantah. Bukan romantis karna dulu saya suka engkau-engkau-an dengan siapa. Hahaha.. Ngga itu mah ga pernah euy.
Lalu menambahkan "sungguh" di depan kalimat sebagai penekanan khusus. Juga sungguh jadul dan romantis. Berkumpul lah satu per satu penghuni dunia rasa.
Pemakaian kata-kata yang tidak biasa saat menyampaikan dongeng sama seperti menanam benih bunga di kebun. Kelak saat bunga-bunga itu tumbuh dan bermekaran di sana dan sini, kita hanya bisa senyum menikmati keindahan hantaran kata-kata yang diuntai sikecil di saat saat yang juga ajaib.

Berkah untuk semua.

0 comments:

Post a Comment

© wondering clouds 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis